Selasa, 12 Agustus 2014

SIAPA MEMBERI DIA AKAN MENERIMA



          Di sebuah kota kecil tinggallah seorang juragan kayu yang kaya raya dan sangat terkenal. Dia terkenal bukan karena dermawan atau sering beramal, justru sebaliknya karena terkenal sangat pelit dan sombong. Sepanjang hidupnya dia hampir tidak pernah beramal walaupun disekitar tempat tinggalnya banyak orang miskin yang hidup melarat. Tapi dia sering meminjamkan uangnya kepada penduduk sekitar dengan bunga yang sangat tinggi. Sang juragan kaya itu mempunyai seorang pelayan yang sangat lugu. Saking lugunya, sering tidak memahami apa yang harus dilakukan sebagai pelayan. Namun demikian, walaupun lugu dia  tergolong orang yang baik hati. 

          Suatu ketika, majikannya menyuruh si pelayan itu berkeliling ke pinggiran kota, keluar masuk rumah untuk menagih hutang dari para penduduk itu. Namun, sebelum berangkat pelayan itu bertanya kepada Sang majikan, “Apabila uangnya sudah terkumpul, uangnya mau diapakan? Dengan sikap yang sombong, sang majikan menjawab, “Belanjakan saja semua uangnya untuk apa saja yang belum kita punyai”.

          Berangkatlah si pelayan itu berkeliling ke seputar pinggiran kota itu. Setelah menjelajahi hampir semua pinggiran kota itu, dia mengumpulkan tagihan yang sangat banyak. Maka diapun ingin pulang mau menyetorkan tagihan yang sudah terkumpul itu kepada majikannya. Akan tetapi ditengah jalan dalam perjalanan mau pulang, dia berpikir dan teringat akan perintah majikannya untuk membelanjakan uang itu untuk apa saja yang belum dimiliki majikannya. Setelah berpikir beberapa saat, si pelayan itu merasa bahwa majikannya sudah memiliki segalanya, hanya majikannya belum pernah beramal. Maka si pelayan itu memutuskan untuk kembali berkeliling  untuk membagi-bagikan uang itu untuk orang-orang miskin  di seputar pinggiran kota itu. Maka para penduduk itupun penuh dengan rasa sukacita.

          Sepuluh tahun kemudian, usaha sang juragan itu bangkrut dan diapun jatuh miskin. Karena sudah tidak mampu lagi memberi gaji, maka semua karyawannya meninggalkannya dan tinggallah seorang diri si pelayan yang lugu itu yang masih setia menemani dia. Maka mulailah  mereka mengemis ke seputar pinggiran kota. Para penduduk di seputar pinggiran kota itu menyambut mereka dengan sangat ramah. Kemanapun mereka pergi selalu disuguhi makanan dan minuman serta diberi juga tumpangan agar mereka bisa menginap. Maka sang juragan itupun merasa heran, lalu bertanya kepada pelayannya, “Siapakah mereka itu sebenarnya, mengapa mereka begitu baik hati dan mau menolong kita? tanya sang juragan.” Maka si pelayan itupun memberi penjelasan kepada juragannya. “Beberapa tahun yang lalu waktu tuan menyuruh saya menagih hutang kepada mereka, “Juragan berpesan agar tagihan yang saya kumpulkan untuk dibelanjakan untuk apa saja yang belum tuan miliki. Saat itu saya berpikir, juragan sudah memiliki segalanya. Hanya satu yang belum juragan miliki, yaitu beramal. Maka saya bagi-bagikan semua uang itu atas nama juragan untuk orang-orang miskin. Sekarang giliran juragan menuai atau menerima imbalan dari apa yang pernah diberi.”

          Siapa yang menanam akan menuai, tidak pernah menanam tidak akan pernah menuai. Siapa yang memberi dia akan menerima pada saatnya dan yang tidak pernah memberi tidak akan pernah menerima. Jangan pernah takut memberikan apa yang bisa dibagikan kepada sesama. Ingatlah tidak pernah seorang dermawan yang gemar menolong orang lain akan menjadi jatuh miskin. Yang memberi banyak akan menerima banyak dan memberi sedikit akan menerima sedikit. Perbuatan baik tidak pernah sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar