Selasa, 05 Agustus 2014

KASIH IBU TIDAK PERNAH BERUBAH



          Rianti adalah seorang gadis desa mempunyai seorang ibu yang penuh kasihsayang yang selalu penuh perhatian kepadanya. Setiap hari selalu menyediakan segala kebutuhannya, sejak masih bayi kebutuhannya selalu disediakan oleh ibunya mulai dari serapan pagi, menyiapkan pakaian dan peralatan sekolah dan menyiapkan makanan dan minuman sepulang dari sekolah. Hal itu dirasakannya hingga dia duduk di kelas tiga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Apapun kebutuhan dan permintaannya dan setiap saat dia merasa lapar atau haus ibunya selalu menyediakannya dengan penuh kasih sayang tanpa pernah mengeluh.   

          Tanpa dia pernah tau, ibunya sebetulnya sudah lama mengidap penyakit kanker. Suatu saat ibunya  pergi kerumah sakit di kota untuk memeriksakan kesehatannya. Setelah mendapat penjelasan dari dokter tentang hasil pemeriksaannya, dia hampir pingsan mendengarkan kesimpulan dokter bahwa penyakit kanker yang dideritanya sudah pada tahap stadium empat. Sehingga dia merasa sedih dan putus asa, karena diperkirakan umurnya paling lama kurang lebih satu tahun lagi. Rasa sedih dan putus bukan karena sakit yang diderita atau ajal yang sudah mau menjemputnya, tapi karena memikirkan masa depan anak gadisnya yang masih kecil. 

          Setelah pulang kerumah dia tidak memberitahu tentang penyakitnya itu, tapi dia mulai menunjukkan perubahan sikap dan mulai kurang peduli terhadap anak gadisnya itu. Kalau anaknya pulang sekolah kadang tidak disediakan makanan dan kalau anaknya minta disediakan makan, ia marah dan berkata kamu kan sudah besar dan sudah bisa menyiapkan makanan sendiri. Mau sekolah juga kau harus bisa menyiapkan pakaian dan peralatanmu, selanjutnya pulang sekolah kau harus bisa mencuci pakaianmu, katanya dengan nada kesal.  

          Mulai dari situ Rianti merasa bahwa ibunya sudah tidak sayang lagi padanya, maka mulai tumbuh perasaan tidak senang dan benci terhadap ibunya. Lalu dia mulai mengerjakan segala keperluannya, mencuci pakaian, menyiapkan pakaian dan peralatan sekolah, memasak makanan sendiri dan menyediakan semua kebutuhannya karena ibunya sudah tidak memperdulikannya, bahkan membukakan pintupun sudah tidak bersedia kalau dia pulang larut malam. Kondisi itu mengakibatkan hubungan Rianti semakin renggang dan semakin buruk sampai akhirnya menganggap ibunya sudah tidak ada.  

          Kemudian ibunyapun meninggal dunia, akan tetapi karena hubungan yang sudah tidak baik sebelumnya bahkan sudah bermusuhan, maka kematian ibunya tidak membawa pengaruh atau menimbulkan rasa kesedihan dalam diri Rianti. 

          Tidak lama kemudian ayahnyapun kawin lagi, sehingga dia hidup bersama ibu tiri yang dianggapnya masih lebih baik dari ibu kandungnya. Ibu tirinya dianggap lebih baik karena masih mau menyediakan makanan kalau dia pulang sekolah dan masih mau berkomunikasi dengannya. Walaupun kebaikan ibu tirinya itu sebetulnya tidak seberapa dibandingkan kebaikan ibu kandungnya sebelum berubah sikap setelah mengetahui bahwa maut sudah mau menjemputnya.  

          Selanjutnya Rianti pun semakin rajin dan tekun belajar karena ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun nasib baik rupanya tidak menyertai keseriusan dan ketekunannya belajar, karena setelah berhasil dalam ujian masuk perguruan tinggi, ayahnya tidak mampu membayar uang kuliahnya karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan.
Tiba-tiba ayahnya teringat akan titipan ibunya sebelum meninggal, sebuah kotak kecil yang diberikan kepada ayahnya dengan pesan agar diberikan kepada anaknya apabila suatu saat menghadapi kondisi yang sangat sulit. Rianti pun menerima kotak itu dari ayahnya, dan ketika kotak itu dibuka ternyata berisi sejumlah uang yang dibungkus dengan selembar surat wasiat yang berbunyi :
Anakku yang sangat kukasihi, setelah aku mengetahui bahwa penyakit kanker yang kuderita telah memasuki stadium lanjut, aku selalu bersedih, khawatir dan hampir putus asa. Aku tidak pernah khawatir dan putus asa tentang diriku, akan tetapi aku hanya khawatir tentang dirimu. Aku terus berpikir kalau sudah tiada, bagaimana dengan dirimu anakku sayang. Kau masih terlalu kecil untuk bisa hidup mandiri. Pikiranku selalu dihantui perasaan akan masa depanmu. Hal itulah yang membuat ibu bersikap dingin, tidak peduli dan mendorong kau untuk bisa mengerjakan sendiri segala kebutuhanmu dan menciptakan kebencian sama ibumu, karena dengan keadaan itu kau akan bisa mengurusi dirimu sendiri  dan tidak akan diliputi rasa kesedihan apabila ibumu sudah tiada. 

          Rianti anakku sayang, sekalipun tidak pernah bertanya kalau pulang larut malam, terus terang aku selalu khawatir, dan tidak pernah bisa tidur sebelum kau tiba di rumah. Ketika pulang sekolah, ibu tau bahwa kau lapar, namun tetap membiarkanmu masak sendiri, karena ibu berharap setelah ibu tiada kau bisa mengurus diri sendiri. Sebelumnya ibu mengerjakan segalanya untukmu, namun setelah tiada, siapa akan mengurusmu nanti? Oleh karena itu segala sesuatu harus bergantung pada dirimu sendiri.
Aku melakukan itu semua demi kasihku padamu, maka dengan demikian apabila ayahmu kawin lagi,  maka kamupun bisa bergaul dan berkomunikasi secara baik dengan ibu tirimu. Ingatlah kasihku tidak pernah berubah padamu.

          Didalam kotak kecil ini ada uang sejumlah 3500 dolar yang beberapa tahun saya tabung untuk persiapan biaya berobat saya sebetulnya. Namun ibu berpikir, sayang kalau itu dipergunakan untuk berobat karena kecil kemungkinan saya bisa sembuh, maka lebih baik uang itu kau pergunakan untuk melanjutkan kuliahmu di perguruan tinggi sesuai cita-citamu. Uang itu saya titipkan sama ayahmu untuk selanjutnya diberikan padamu pada waktunya kau butuhkan.

         Pada saat melakukan semua tindakan itu terhadap anaknya perasaan ibunya Rianti sebetulnya sangat tertekan dan sakit, tapi dia berusaha keras untuk memperlihatkan wajah dingin kepada anaknya dan sungguh sulit dibayangkan berat penderitaan itu, demi kehidupan anaknya yang lebih baik dikemudian hari  bahkan rela dan tidak menyesal membiarkan anaknya membenci dan salah paham padanya. 

          Bagaimanakah sikap kita sebagai seorang anak? Apakah kita mau atau pernah memahami apa isi hati ibu kita? Mungkin sebagai seorang anak kita sering merengek-rengek bahkan membentak-bentak ibu kita karena belum bisa memenuhi keinginan kita. Kita mungkin tidak pernah sadar seorang ibu selalu bersedih hati apabila belum bisa memenuhi kebutuhan anaknya. Seorang anak mungkin tidak pernah menyadari perkataan-perkataannya yang penuh emosi juga bisa melukai perasaan ibunya. 

          Sekalipun seorang ibu pernah memukul atau memarahi anaknya bukan karena tidak menyukainya, tapi itu karena kasihnya. Oleh karena itu kita tidak perlu meragukan kasihnya. Kasih ibu tidak pernah berubah, tidak terukur dan tanpa pamrih, bagaikan mata air yang keluar dari bukit, terus mengalir deras tanpa pernah berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar