Kamis, 21 Agustus 2014

BUAH DARI SEBUAH KEJUJURAN




Kita mungkin semua sepakat dan mengakui bahwa kejujuran merupakan sesuatu hal yang semakin sulit dan makin mahal untuk ditemukan belakangan ini. Yang lebih menyedihkan lagi, pihak-pihak yang seharusnya menjadi teladan kejujuran justru mulai ikut-ikutan berbuat tidak jujur.  Maka sebelum situasi semakin parah, keberanian untuk bersikap tegas memerangi  ketidakjujuran amat diperlukan. Hal inilah yang ditunjukkan oleh pemerintah kota Bihar, India.
          Beberapa saat yang lalu, pemerintah kota Bihar menyatakan bahwa sekitar 1.600 siswa telah dikeluarkan dari seklolah setelah tertangkap basah mencontek saat mengikuti ujian akhir SMA. Para siswa mencontek dengan menigintip jawaban dari buku atau catatan kecil. Bahkan dalam beberapa kejadian, aksi ini juga dibantu oleh orang tua mereka. Para orang tua yang ikut mengawasi jalannya ujian sering melempar jawaban kepada anaknya, atau menitipkan jawaban pada orang lain. Maklum saja, mencontek sepertinya sudah menjadi kebiasaan di kota Bihar.
          Pihak Departemen Pendidikan kota Bihar kemudian memutuskan bertindak tegas dengan mengeluarkan para siswa yang ketahuan mencontek. Mereka yang dikeluarkan baru bisa mengikuti ujian ulang tiga tahun kemudian. Sementara orang tua yang tertangkap basah membantu anaknya, mereka didenda hingga 2.000 rupee atau dipenjara enam bulan. Apakah hukuman itu  terlalu kejam? Jelas tidak . Pihak Departemen Pendidikan tidak hanya ingin menghentikan kebiasaan mencontek, tetapi juga ingin mengubah masa depan penduduk Bihar. Asal tahu saja, Bihar merupakan wilayah termiskin di India dengan tingkat buta huruf mencapai 36 %. Bila masyarakat Bihar ingin memiliki masa depan yang lebih baik, maka semua kebiasaan buruk harus dihentikan mulai saat itu. Salah satu kebiasaan mencontek menjadi bukti bahwa mereka bukanlah orang-orang jujur.
          Kesadaran untuk tidak melakukan kecurangan seperti mencontek saat ujian, sebenarnya merupakan satu contoh kecil tentang kwalitas kejujuran yang ada dalam diri seseorang. Namun jika seseorang tidak bisa jujur  dalam perkara kecil, adakah jaminan kalau ia akan mampu jujur dalam perkara yang lebih besar? Jelas tidak, “Orang yang bisa dipercaya dalam hal-hal kecil, bisa juga dalam hal yang besar. Tetapi orang yang tidak bisa dipercaya dalam hal-hal kecil, tidak bisa dipercaya juga dalam hal-hal besar”.
          Kadang-kadang kita menyangka kalau kejujuran adalah hanya kesediaan untuk berbicara apa adanya. Katakan ya bila ya, dan tidak bila tidak. Pemahaman seperti itu memang tidak salah. Namun harus disadari bahwa kejujuran tidak hanya terkait dengan apa yang kita katakan, tetapi juga dengan apa yang kita lakukan. Bila perkataan dan tindakan kita bisa sejalan dalam kejujuran, itulah yang disebut sebagai integritas diri yang positif.  Yang menjadi masalah, berani bersikap jujur dalam perkataan, dan tindakan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun hal itu tidak akan pernah menjadi terlalu sulit bila kita terus mengingat betapa besarnya dampak yang akan kita terima kelak.
          Suatu kali ada seorang pengemis tua bernama Billy Ray Harris. Hari itu ia sedang mengemis dan seorang wanita memberinya sedekah. Beberapa saat setelah wanita itu pergi, Harris iseng-iseng mengangkat kaleng yang dipakainya mengumpulkan sedekah untuk menghitung isinya. Tak disangka-sangka, selain koin ternyata ada sebuah cincin berlian didalamnya. 
          Sementara itu sang wanita yang bernama Sarah Darling, langsung panik saat mengetahui cincinnya hilang. Ia bergegas kembali ketempat si pengemis tadi, tetapi tidak mendapatinya lagi. Keesokan harinya ia kembali lagi kesitu dan kali ini ia bertemu Harris. Ia bertanya apakah Harris menemukan sebuah benda berharga. Dengan jujur, Billy mengatakan, “Ya, saya sengaja menyimpannya dan akan menyerahkan pada Anda saat kembali lagi kesini”.
Kejujuran Billy menyentuh hati Sarah dan suaminya. Pasangan tersebut segera menggalang bantuan online dengan menulis cerita kejujuran seorang pengemis yang mau mengembalikan sebuah cincin berlian pada pemiliknya. Dalam 30 hari terkumpul sumbangan sebesar US$0.383 (sekitar Rp.1,2 milyar). Mendapat hadiah sebanyak itu Harris amat terkejut. Sebab menurutnya, yang ia lakukan sudah sepantasnya dilakukan sebagai seorang manusia. Itu bukan sesuatu hal yang luar biasa.  Bagaimanapun, apresiasi itu juga meneguhkan betapa kejujuran dirindukan setiap insan. Kiranya, kisah ini jadi inspirasi bagi kita untuk selalu jujur. Bukan hanya masyarakat dari kalangan bawah, tetapi juga para pejabat pemerintah. Kejujuran adalah perisai bagi mereka yang melakukannya.
(ryu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar