Kamis, 29 Mei 2014

KEKUATAN DOA SEORANG IBU



 Sebagai seorang anak yatim Santo tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut, serta menjadi anak yang pintar di sekolah. Semenjak duduk dibangku SD hingga kelas tiga SMP dia selalu menjadi bintang kelas, suatu hal yang sangat menyenangkan dan membanggakan hati ibunya. 

          Namun sejak duduk dibangku SMA seiring dengan pertumbuhan yang beranjak dari  remaja menjelang dewasa, ia berubah menjadi anak pemberontak. Ia mulai sering bolos dari sekolah dan prestasinyapun jauh sekali menurun. Hal tersebut juga dipengaruhi lingkungan kehidupannya, dimana ia tinggal dilingkungan yang rawan tindak kejahatan dan marak peredaran narkoba. Sehingga dia bertumbuh menjadi anak yang urakan dan berandalan.

          Walaupun demikian, cinta kasih ibunya tidak pernah berubah. Ibunya sangat mengasihi dia, setiap hari dan setiap malam tidak pernah lupa mendoakannya.  Dengan tidak bosan-bosan ibunya selalu menasihatinya, tidak peduli apakah si anak menutup telinga ketika ia berbicara kepadanya, ibunya tetap menasihatinya. Dengan penuh cucuran air mata, ia memohon kepada Tuhan untuk melindungi anaknya dari pergaulan buruk. Saat Santo sedang tidur, ibunya berlutut berdoa untuk dia disamping tempat tidurnya. Santo mengetahui apa yang dilakukan ibunya. Sebenarnya didalam hatinya ia mengasihi ibunya.

          Namun, sekarang ia merasa sudah tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda. Ia tidak mau mendengar nasehat-nasehat ibunya lagi. Ia merasa bosan mendengar nasehat ibunya setiap hari, bahkan merasa kupingnya sakit mendengar nasehat-nasehat tersebut. Sebagai seorang yang sudah dewasa ia merasa sudah mampu menentukan jalan hidupnya. 

          Suatu ketika, saat pulang sekolah seorang temannya mengajak dia ketempat perjudian. Dia berpikir tidak ada salahnya kalau dia mencobanya, lalu pergi bersama teman-temannya. Namun setiba didepan rumah judi tersebut, tiba-tiba ia teringat kepada ibunya. Dengan sangat jelas terngiang ditelinganya nasehat-nasehat ibunya. Terbayang dimatanya ibunya yang sedang berlutut, berdoa sambil menangis. Ia membayangkan perasan ibunya sangat sedih kalau mengetahui ia berada ditempat perjudian itu. Tiba-tiba langkah kakinya terasa berat untuk memasuki rumah judi tersebut. Ia memandang rumah itu dengan merasa jijik dan seketika berbalik arah, lalu berlari meninggalkan tempat itu, pulang kerumah. 

          Apabila melihat kejadian diatas, nasehat ibu tersebut seakan-akan tidak pernah kena sasaran. Namun pada akhirnya, ketika sianak diperhadapkan dengan godaan dunia ini, ia bisa teringat akan nasehat ibunya. Mendidik anak dengan segala cara tentulah sangat penting, tetapi jangan lupa juga satu bagian yang sangat penting adalah selalu mendoakan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar