Senin, 26 Mei 2014

HATIHATI DI ZONA NYAMAN



Pada dasarnya zona nyaman selalu menjadi pembunuh kehidupan. Mereka-mereka yang ada pada area ini, akan terjebak pada pola kehidupan yang rutinitas, nyaman, bebas dan jauh dari tantangan kehidupan. Ketika semua ini terjadi, maka janganlah heran jika pada akhirnya kita akan tiba pada “kematian”. Kematian yang dimaksud adalah lambat laun kehidupan yang kita jalani tidak berkembang lagi, bahkan lama-kelamaan terpuruk dan mati alias tidak ada lagi pertumbuhan. 

          Konon di satu saat yang telah lama berlalu, Elang dan Kalkun adalah dua burung yang berteman baik.  Dimanapun mereka berada, kedua teman tersebut selalu pergi bersama . Bukan pemandangan yang aneh lagi bagi manusia melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara kepada Elang, “Mari kita turun dan mencari makanan. Perut saya sudah lapar”. Kemudian keduanya turun lalu melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor sapi yang sedang makan jagung, namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung ini”.

          Kedua burung itu terkejut, mereka tidak biasa melihat jika ada binatang lain berbagi makanan mereka dengan mudahnya. “Mengapa kamu membagikan jagung milikmu dengan kami?” Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan disini. Tuan Petani  memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan.”

          “Maksudmu, Tuan Petani itu memberi kepadamu semua yang  ingin kamu makan? “Betul sekali. Bahkan kami juga diberi tempat tinggal”. Elang dan Kalkun terkejut. Mereka belum pernah mendengar hal seperti itu. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari tempat bernaung. 
          Ketika tiba waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang berdiskusi lagi tentang situasi itu. Kalkun berkata, “Mungkin kita harus tinggal disini. Karena kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja lagi. Elang menjawab, “Sulit dipercaya kalau ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa berusaha. Saya lebih suka terbang tinggi, bekerja dan menghadapi tantangan agar dapat tetap hidup.” Akhirnya mereka berpisah, Kalkun memutuskan tinggal menetap disitu, sementara Elang pergi. 

          Semuanya berjalan dengan baik bagi si Kalkun. Ia makan semua yang ia inginkan tanpa bekerja. Lambat laun ia menjadi gemuk dan malas. Namun suatu hari ia mendengar isteri Tuan Petani mengatakan bahwa Hari Raya Thanks giving akan tiba beberapa hari lagi dan alangkah enaknya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, si Kalkun memutuskan sudah waktunya pergi dari tempat itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, si Elang yang sudah pergi sebelumnya. Namun ketika berusaha terbang, ia hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya karena tubuhnya terlalu gemuk. Akhirnya di Hari Thanks giving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi dan menyantap panggang daging Kalkun besar yang sedap.

          Apa yang salah dari si Kalkun? Jelas ia telah menikmati zona nyaman, sehingga ia tidak bisa lagi kembali pada kebiasaan lamanya. Tidak memiliki kemampuan lagi untuk mengembangkan identitasnya. Sementara Elang membuat keputusan bijak dengan tidak mau terjebak di zona nyaman.
          Dari kisah tersebut diatas kita semua dapat memetik nilai kebenaran.

Pertama, jangan pernah mengubah identitas Anda demi mendapat kenyamanan. Yang harus kita kerjakan adalah tetap bekerja sesuai dengan tanggungjawab dan identitas diri kita, maka akan ditemukan kehidupan yang berkembang, yang pada gilirannya membawa kita kemaksimalan dan kebermaknaan diri.

Kedua, jangan tergiur dengan kehidupan yang serba ada, karena hal itu akan melemahkan daya juang dalam diri kita untuk mengukir prestasi. Ketika seseorang mudah tergiur dengan kehidupan yang serba ada, apalagi jika mendapatnya gratis, maka hal itu akan membunuh daya kreativitas dalam hidup kita.

Ketiga, menjauhlah dari kemalasan jika ingin sebuah kehidupan yang tetap berkembang, progresif dan mencapai kemandirian. Salah satu hukum kehidupan yang perlu kita tanamkan adalah jangan hidup dalam kemalasan, hal itu akan membunuh dan mematikan kehidupan kita. Kita harus menjauhkan kemalasan supaya hidup kita menemukan hal-hal terbaik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar