Tampilkan postingan dengan label Kegagalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegagalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014

KEGAGALAN ADALAH SUKSES YANG TERTUNDA



          Barangkali kita sudah sering mendengar kalimat bijiak yang berbunyi, seperti  judul tulisan ini. Siapapun diantara kita pasti tidak ada yang ingin mengalami kegagalan dalam hidupnya entah itu kegagalan dalam pendidikan, pekerjaan ataupun dalam kehidupan berumah tangga. Kegagalan ibarat hantu yang sangat menakutkan semua orang, sehingga semua orang berupaya dengan segala upaya untuk  menghindari dan menjauhinya.  
          Apa sebetulnya yang dimaksud dengan kegagalan itu? Kegagalan adalah suatu kondisi atau proses ketidakberhasilan dalam mencapai apa yang diusahakan atau direncanakan. Jika saat ini kita mengalami kegagalan, jangan putus asa dan larut dalam kekecewaan yang terus menerus serta berkepanjangan. Sejarah banyak mencatat orang-orang besar atau yang sukses dibidangnya bukanlah orang yang tidak pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, justru banyak dari mereka pernah bahkan mungkin berkali-kali mengalami kegagalan tapi, mereka tidak mau menyerah pada keadaan namun berusaha bangkit kembali. Sedangkan sukses bisa dimaknai sebagai kondisi bisa melakukan sesuatu sesuai dengan rencana yang diharapkan. Bisa menikmati kelimpahan baik material maupun  spiritual dalam segala macam bentuknya, juga kesehatan jiwa raga, ketenangan batin.
          Apakah anda mau berhasil? Belajarlah dari setiap kegagalan, ambil sisi positifnya dari setiap kegagalan. Anda mau berhasil jangan pernah berhenti saat mengalami kegagalan, karena kegagalan adalah langkah awal sedangkan sukses atau keberhasilan adalah langkah selanjutnya. Orang bijak mengatakan kita boleh jatuh sembilan puluh sembilan kali tapi harus mampu bangkit seratus kali. Tidak ada kemenangan tanpa pertandingan dan tidak ada sukses atau keberhasilan tanpa melalui kegagalan. Ingat dan camkanlah sukses hanya selangkah dibelakang kegagalan.

DOA : Mengandalkan Tuhan dalam segala hal adalah kunci menghindari kegagalan.

Selasa, 10 Juni 2014

KEGAGALAN



Kegagalan adalah satu hal yang sering menyertai kehidupan setiap orang, apakah itu dalam study, karir, bisnis atupun kehidupan berumah tangga.
Apakah sebenarnya kegagalan itu? Kegagalan adalah satu kondisi atau proses ketidak berhasilan yang selalu disangkutpautkan dengan suatu tindakan atau perencanaan yang tidak berhasil  diterapkan atau dilaksanakan, sehingga kita bisa disebut tidak becus.

Bagaimana kita bisa mengenali kegagalan?
Apabila kita gagal melakukan sesuatu hal, tampaknya kita perlu kembali ke diri, bertanya kepada diri sendiri. Kembali mengoreksi diri. Belajar dari kesalahan diri sendiri. Kita harus menyadari, diri kita adalah pusat pribadi kita. Lebih konkritnya mengenali atau mengetahui potensi dirinya. Secara garis besar, potensi diri dapat dikelompokkan beberapa bagian yang mencakup : Kemampuan dasar, seperti tingkat inteligensi, kemampuan abstraksi, logika dan daya nalar. Juga etos kerja, seperti ketekunan, ketelitian, efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan.
          Selain etos kerja juga kepribadian, yaitu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang baik jasmaniah, rohaniah, emosional maupun sosial yang ditata dalam cara khas dibawah berbagai pengaruh luar.

Mengenali Potensi Diri.
Mengenali kegagalan adalah juga mengenali kelemahan diri dan yang lebih penting adalah menggali potensi untuk diolah secara maksimal. Sebab dalam setiap potensi ini terdapat peluang dan keahlian yang menyebabkan satu orang berbeda dengan yang lain.

Lalu, apa dan bagaimana potensi manusia itu, kita dapat mengetahui pendapat Gardner. Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah inteligensi, yaitu sebagai berikut :
a. Inteligensi linguistik, inteligensi yang menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan   maupun   tulisan, secara efektif. Inteligensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor dan jurnalis.
b. Inteligensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan  bilangan pada kepekaan pola logika dan perhitungan.
c. Inteligensi ruang,  kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan    benda secara tepat serta kekampuan menangkap dunia visual  secara cepat. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para arsitek, dekorator dan pemburu.
 d. Inteligensi kinesketik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kemampuan ini dimiliki oleh aktor, penari, pemahat, atlet dan ahli bedah.
e. Inteligensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan     menikmati bentuk-bentuk musik dan suara. Kemampuan ini terdapat pada pencipta lagu dan penyanyi.
f. Inteligensi interpersonal, kemampuan seseorang, untuk mengerti dan menjadi peka  terhadap perasaan, motivasi dan watak temperamen orang lain seperti  yang dimiliki oleh seorang motivator dan fasilitator.
g. Inteligensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri.   Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi (merenung) dan keseimbangan diri.
h. Inteligensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna dengan baik.
g. Inteligensi eksistensial, kemampuan seseorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus diciptakan dan mengapa kita hidup dan akhirnya mati.

Kesalahan Fatal Tidak Mengetahui Potensi Diri.
Banyak orang yang tidak mengetahui tentang potensi dirinya, satu hal yang sangat disayangkan. Tidak tahu apa kelebihan yang dimilikinya. Kalau kita bertanya pada diri sendiri atau orang disekeliling kita “Apa kelebihan dirinya”? Biasanya selalu menjawab, apa ya, tidak tahu, atau bingung. Tapi kalau ditanya apa kekurangannya, dengan cepat bisa menjawab, kurang pintar, miskin, bodoh dan sebagainya. Ketidak mengertian akan potensi dan kelebihan yang ada dalam diri seseorang seringkali juga dibungkus dengan alasan klasik. Tidak mau dikatakan sombong dengan mengatakan potensi dan kelebihan dirinya. Sombong dalam pergaulan memang tidak perlu, tetapi mengetahui potensi diri adalah keharusan. Potensi kita ketahui bukan untuk disombongkan tapi untuk dikembangkan. Potensi diri yang terus tumbuh dan berkembang akan menjadi modal “hidup sukses”. Anda mau sukses? Kenali dan ketahuilah potensi dan kelebihan dalam dirimu.


Sabtu, 24 Mei 2014

BERAPA KALI KITA HARUS GAGAL



          Kegagalan adalah satu hal yang sering menakutkan bagi siapa saja melakukan usaha bisnis.  Biasanya orang lebih suka membicarakan atau atau mempelajari bagaimana caranya sukses bukan bagaimana mengatasi kegagalan, walaupun itu merupakan dua hal yang sama pentingnya. Padahal, sekali lagi, dalam kenyataannya orang lebih takut pada kegagalan ketimbang pada kesuksesan. 

          Menurut Napoleon Hill, “setiap kegagalan membawa benih-benih keberuntungan yang besar”. Artinya, bila kita ingin memiliki benih keberuntungan yang besar, maka kita memerlukan suatu kegagalan. Dalam realitas dan bahasa sederhana, omong kosong kalau ada yang mengatakan bahwa orang yang sukses dan memiliki keberuntungan besar tidak pernah mengalami kegagalan.

          Sebenarnya kegagalan adalah bagian dari hidup kita, sama dengan kesuksesan dalam segala hal. Contoh paling sederhana, kalau kita melihat seorang bayi yang baru belajar jalan pasti sering gagal atau jatuh karena keseimbangannya yang masih kurang baik. Tapi, tetap saja si bayi itu mencoba dan mencoba lagi gagal dan gagal lagi. Sampai suatu saat bisa berjalan dengan lancar. Demikian juga halnya waktu belajar lari seringkali gagal sampai bisa berlari dengan kencang.

          Mengapa bayi tidak takut kepada kegagalan yang berulang-ulang itu? Yang pertama karena ada faktor internal yang kuat, yakni :
a. Dorongan yang luar biasa besar untuk dapat berjalan dan berlari. Dorongan ini melahirkan semangat yang terus menerus dan mengalahkan “kesakitan” pada waktu jatuh atau gagal dalam berjalan dan berlari.
b. Keyakinan yang besar bahwa dia akan bisa melakukannya. Entah dari mana sumbernya, tapi keyakinan ini sangat tampak dari mimik muka yang selalu ceria untuk mencoba dan mencoba lagi tanpa ada rasa putus asa.
c. Ada sukacita tak terkira apabila berhasil melakukannya. Biasanya setiap bayi berhasil berjalan beberapa langkah saja, meski harus jatuh berkali-kali, akan tertawa kegirangan setelah berhasil memegang tembok didepannya. 

Yang kedua adalah faktor eksternal yang mendukung, yakni :
a. Adanya orang tua atau pengasuhnya yang membantu memegangi tangannya yang sekali-kali melepaskannya. Ini membuat sang bayi merasa aman dan dekat dengan orang yang menjaganya, sehingga dia tidak ragu untuk mencoba dan mencoba terus.
b. Ada yang memberi penghargaan dengan ciuman atau pelukan bila sudah bisa tembok didepannya dengan berjalan sendiri.

          Kita bisa belajar dari si bayi. Adakah dorongan yang sangat kuat didalam diri kita untuk berhasil menjalankan usaha atau bisnis kita. Adakah keyakinan yang sangat besar bahwa kita bisa melakukan bisnis dengan baik?  Dan adakah sukacita yang sungguh-sungguh bila bisnis kita berhasil. Kita harus bisa menjawab dengan tegas “ada”. Bila jawabannya, “tidak” maka jangan harap kita akan memiliki ketabahan dalam menghadapi setiap kegagalan saat membangun suatu usaha atau bisnis. Faktor eksternal juga penting. Maka kita harus mencari Pembantu dan Pendukung kita yang kuat. Faktor eksternal yang kedua, kita harus tidak segan untuk memberikan penghargaan pada diri sendiri bila telah mencapai suatu keberhasilan, betapapun kecilnya keberhasilan itu. Misalnya, merayakan bersama keluarga atau rekan sejawat dengan makan bersama di restoran favorit. Juga bisa dengan menyumbang untuk berbagai aktivitas sosial seperti gereja, panti asuhan atau mesjid. Intinya kita harus sungguh-sungguh merasa  sukacita, karena telah mengalami suatu keberhasilan, agar ada dorongan serta semangat yang lebih besar untuk melangkah lebih jauh lagi kedepan.

          Kegagalan tidak perlu ditakuti apalagi menjadi momok yang menghambat langkah kita dalam berusaha atau berbisnis. Ada seorang rekan pengusaha kawakan yang sudah sukses berkata, “Kita perlu setidaknya empat kali gagal total untuk mencapai sukses besar dalam bisnis”. Kalau baru sekali dua kali bangkrut dalam bisnis, itu belum apa-apa. Dengan perkataan tersebut kita bisa mengartikan bahwa, gagal itu lumrah dan tidak perlu ditakuti, apalagi untuk menghambat kita untuk mencoba serta melangkah dalam bisnis. Kita harus melakukan segala usaha kita dengan cara yang terbaik yang bisa kita lakukan. Kalau setelah itu kita gagal lagi, itu berarti :
1. Kita harus instropeksi untuk mengetahui dimana kesalahannya.
2. Kita harus belajar lebih baik lagi agar bisa sukses.
3. Kita belum boleh naik kelas, karena untuk kelas yang kita jalani belum bisa lulus.

          Dengan kegagalan sebenarnya kita juga sedang membangun dasar atau pondasi suatu keberhasilan. Hampir sulit ditemukan orang sangat berhasil dan kuat dalam bisnisnya tidak mengalami suatu pengalaman kegagalan. Apakah itu gagal karena ditolak konsumen, gagal menciptakan produk yang unggul, atau gagal mengelola keuangan dan aset-aset lainnya. Kegagalan tidak harus memalukan dan belum tentu mematikan. Yang memalukan adalah kalau kita melakukan kegagalan yang sama dan kita ulangi lagi. Kita harus belajar dari kegagalan agar tidak mengulangi lagi. Hanya keledai yang mau jatuh dua kali di lobang yang sama.

          Tidak perlu dihitung berapa kali kita harus gagal. Yang penting adalah bangkit lagi setelah mengalami kegagalan. Karena kegagalan-kegagalan bila kita pelajari dengan baik pada akhirnya merupakan tangga mendaki untuk mencapai kesuksesan dan keberuntungan yang lebih besar.